Sambut Tahun Baru Islam dengan Amalan-Amalan Terbaikmu

 

Muharam 1442 H

Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun tahun berganti tahun. Tanpa disadari waktu semakin cepat berlalu ,  juga tak terasa bulan Muharam sudah ada didepan mata.  Memasuki bulan Muharam tahun 1442 H, tepatnya pada hari kamis 20 Augustus 2020, dimana bulan Muharram sekarang tampaknya mulai berbeda. Ya, di bulan muharam ini kita disertai dengan adanya wabah covid 19. Namun, dengan adanya wabah tersebut, tidak membuat semangat umat islam memudar. Dalam agama islam, bulan Muharram (dikenal bulan suro oleh orang jawa) merupakan salah satu diantara empat bulan yang di namakan bulan haram. Seperti firman Allah Azza Wa Jalla :

انّ عدّة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والارض منها أربعةٌ حرم ذلك الدّين القيّم فلا تظلموا فيهنّ انفسكم

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS.At-Taubah: 36)[1]

Adapun yang dimaksud dari empat bulan tersebut ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ke empat bulan tersebut termasuk bulan Haram. Definisi dari haram disini ialah haramnya untuk berperang dan penekanan kepada seseorang untuk menjaga diri dari kemaksiatan, karena di bulan haram ini ketika seseorang melakukan kemaksiatan maka dosanya akan dilipatkan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Begitupun sebaliknya jika seseorang melakukan amal shalih maka pahalanya juga akan dilipatgandakan di bulan haram tersebut.

Ibnu Rajab mengatakan “Allah Azza Wa Jalla menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”

            Bulan muharram juga dijuluki dengan Syahrullah (Bulan Allah), maka bulan Muharram ini sangatlah istemewa karena disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Seperti perkataan dari as Zamakhsari di nukil dari Faidhul Qodir, beliau rahimahullah mengatakan “Bulan Muharram ini disebut syahrullah, disandarkan pada lafadz jalalah Allah untuk menunjukan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut “baitullah” atau “Ailullah” ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus disini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram ini adalah nama islami. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Inilah yang disebutkan Ibnu Rojab, bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.[2]

            Selain agama islam, yahudi dan nasrani pun sangat mengagungkan bulan ini, bahkan syiah sendiri sering melakukan perang darah ketika memasuki tanggal 10 Muharram dengan notabene untuk memuliakannya bulan Muharam. Namun amalan-amalan mereka tidak akan Allah terima. Mereka tidak akan mendapatkan pahala melainkan hanya kesia-siannya saja, sebab yang Allah sempurnakan hanyalah agama islam, yaitu sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Adapun hal-hal yang menyimpang dari Qur’an dan Sunnah seperti islam kejawen itu maka amalannya tertolak.

Menyambut bulan Muharam dalam kondisi wabah

Indonesia memiliki keragaman budaya dan tradisi dalam setiap daerah. Begitupun dalam penyambutan muharam, masyarakat pada setiap daerah masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun tentu saja hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan syariat islam, karena adanya penyambutan tanpa dilandasi syariat islam, bisa merusak akidah seseorang. Berdasarkan survey yang terjadi di lapangan, sebagian masyarakat di daerah pulau jawa dipenuhi dengan sambutan-sambutan pawai obor bersama. Biasanya anak pesantren mengajak warga-warganya untuk ikut serta dalam merayakan bulan Muharam dengan diiringi shalawat bersama. Melihat contoh dari daerah lainnya, daerah sumatera menyambutnya dengan mengaji bersama serta saling mengantarkan makanan kepada fakir miskin dan masih banyak lagi penyambutan yang unik pada daerah lainnya. Namun, dalam kondisi wabah sekarang ini masyarakat harus menerima dengan lapang dada untuk melakukan social distancing. Hal ini merupakan cara aman agar kita bisa terhindar dari penularan virus yang begitu cepat. Memang sedih rasanya bagi orang yang biasa merayakan Muharam lalu tiba-tiba harus ditiadakan begitu saja karena adanya peraturan dari pemerintah. Begitupun agama islam, Allah Azza Wa Jalla tidak serta merta memaksa umatnya untuk beribadah  jika kondisinya dalam keadaan darurat. Hendaknya kita bersikap tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla dan bersabar atas musibah yang menimpa. Qadarullah, itu semua telah menjadi ketentuan-ketentuanNya yang telah Allah tetapkan. Lagi pula ketika kita tidak bisa merayakan tradisi muharam seperti tahun-tahun kemarin, kita masih bisa beramal ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan amalan terbaik kita. Masih banyak cara lain penyambutan yang bisa kita raih untuk merayakan pergantian tahun baru islam. Seperti contohnya, puasa sunnah, melakukan shalat malam, bersedekah kepada fakir miskin, menonton kajian online, dan melakukan amalan sunnah-sunnah lainnya. Hal seperti mengadakan pawai obor itu hanyalah sebatas hiburan semata, bukan termasuk amalan ibadah yang wajib kita laksanakan ataupun hal yang disyariatkan dalam islam. Fokuskan saja untuk membenahi amalan-amalan apa saja yang bakal kita kerjakan dan yang harus kita perbaiki untuk bisa lebih baik dari hari sebelumnya.

 Sebagai umat yang cerdas, kreatif dan produktif harusnya kita mengikuti apa yang pemerintah anjurkan, jangan hanya karena kita tidak bisa menghilangkan tradisi sejak dulu lantas kita menjadi pengekor hawa nafsu yang melanggar akan himbauannya. Justru islam  lebih mementingkan maslahat umatnya dibanding hal buruk yang akan menimpanya. Seperti terdapat  pada ayat al-Qur’an untuk renungan kita:

ما أصاب من مصيبة الاّ بإذن الله ومن يؤمن بالله يهد قلبه ولله بكل شيء عليم

“Tidak ada suatu musibah pun menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. at-Taghabun:11)[3]

 Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

واعلم انّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك الاّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على ان يضروك بشيء لم يضروك الاّ بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحوف

   “ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين ألف سنة

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR.Muslim, no.2633)[4]

Dari sini harusnya kita tahu bahwa pada hakikatnya sebagai seorang muslim kita harus menjadi hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam segala kondisi. Jika kita tertimpa musibah hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, namun jika kita diberi kenikmatan kita ucapkan Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushalihat.  Terlebih pada bulan muharam ini semua amal ibadah akan dilipatgandakan. Apalagi jika kita bersabar dalam menjalankan semuanya, Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Nikmati saja proses yang telah Allah berikan, mau itu baik ataupun buruk pasti Allah mempunyai sesuatu yang indah untuk kedepannya. Seperti perkataan ibnu qoyyum “boleh jadi kita membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu, begitupun sebaliknya.” Contohnya saja, dengan adanya wabah saat ini menjadikan kota bebas dari polusi, manusia jadi rajin mementingkan kebersihannya, dan bumi menjadi lebih sehat.

Maka dalam hal ini, dari pada kita terus mengeluh karena tidak bisa merayakan Muharam seperti tradisi biasanya, lebih baik kita fokuskan untuk mencari manfaat yang lebih besar yang bisa kita raih dibulan haram ini. Tak perlu dibingungkan lagi, masih banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan di rumah. Justru dengan kita ibadah di rumah juga bisa membuat kita lebih khusyuk dan lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Sungguh, agama islam sangat mempermudah segalanya. Lakukanlah amalan-amalan ibadahmu, dengan sesuai tuntunan yang telah Allah dan Rasul ajarkan saja, jangan mempersulit dengan hal-hal yang berlebihan karena Allah tidak menyukai hal itu.

 

           

 

 

 

 



[1] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taubah :36)

[3] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taghabun:11

 

[4] https://rumaysho.com/23237-khutbah-jumat-menyikapi-virus-corona.html diakses pada 31 januari 2020Sambut Tahun Baru Islam dengan Amalan-Amalan Terbaikmu

 

Muharam 1442 H

Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun tahun berganti tahun. Tanpa disadari waktu semakin cepat berlalu ,  juga tak terasa bulan Muharam sudah ada didepan mata.  Memasuki bulan Muharam tahun 1442 H, tepatnya pada hari kamis 20 Augustus 2020, dimana bulan Muharram sekarang tampaknya mulai berbeda. Ya, di bulan muharam ini kita disertai dengan adanya wabah covid 19. Namun, dengan adanya wabah tersebut, tidak membuat semangat umat islam memudar. Dalam agama islam, bulan Muharram (dikenal bulan suro oleh orang jawa) merupakan salah satu diantara empat bulan yang di namakan bulan haram. Seperti firman Allah Azza Wa Jalla :

انّ عدّة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والارض منها أربعةٌ حرم ذلك الدّين القيّم فلا تظلموا فيهنّ انفسكم

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS.At-Taubah: 36)[1]

Adapun yang dimaksud dari empat bulan tersebut ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ke empat bulan tersebut termasuk bulan Haram. Definisi dari haram disini ialah haramnya untuk berperang dan penekanan kepada seseorang untuk menjaga diri dari kemaksiatan, karena di bulan haram ini ketika seseorang melakukan kemaksiatan maka dosanya akan dilipatkan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Begitupun sebaliknya jika seseorang melakukan amal shalih maka pahalanya juga akan dilipatgandakan di bulan haram tersebut.

Ibnu Rajab mengatakan “Allah Azza Wa Jalla menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”

            Bulan muharram juga dijuluki dengan Syahrullah (Bulan Allah), maka bulan Muharram ini sangatlah istemewa karena disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Seperti perkataan dari as Zamakhsari di nukil dari Faidhul Qodir, beliau rahimahullah mengatakan “Bulan Muharram ini disebut syahrullah, disandarkan pada lafadz jalalah Allah untuk menunjukan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut “baitullah” atau “Ailullah” ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus disini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram ini adalah nama islami. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Inilah yang disebutkan Ibnu Rojab, bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.[2]

            Selain agama islam, yahudi dan nasrani pun sangat mengagungkan bulan ini, bahkan syiah sendiri sering melakukan perang darah ketika memasuki tanggal 10 Muharram dengan notabene untuk memuliakannya bulan Muharam. Namun amalan-amalan mereka tidak akan Allah terima. Mereka tidak akan mendapatkan pahala melainkan hanya kesia-siannya saja, sebab yang Allah sempurnakan hanyalah agama islam, yaitu sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Adapun hal-hal yang menyimpang dari Qur’an dan Sunnah seperti islam kejawen itu maka amalannya tertolak.

Menyambut bulan Muharam dalam kondisi wabah

Indonesia memiliki keragaman budaya dan tradisi dalam setiap daerah. Begitupun dalam penyambutan muharam, masyarakat pada setiap daerah masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun tentu saja hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan syariat islam, karena adanya penyambutan tanpa dilandasi syariat islam, bisa merusak akidah seseorang. Berdasarkan survey yang terjadi di lapangan, sebagian masyarakat di daerah pulau jawa dipenuhi dengan sambutan-sambutan pawai obor bersama. Biasanya anak pesantren mengajak warga-warganya untuk ikut serta dalam merayakan bulan Muharam dengan diiringi shalawat bersama. Melihat contoh dari daerah lainnya, daerah sumatera menyambutnya dengan mengaji bersama serta saling mengantarkan makanan kepada fakir miskin dan masih banyak lagi penyambutan yang unik pada daerah lainnya. Namun, dalam kondisi wabah sekarang ini masyarakat harus menerima dengan lapang dada untuk melakukan social distancing. Hal ini merupakan cara aman agar kita bisa terhindar dari penularan virus yang begitu cepat. Memang sedih rasanya bagi orang yang biasa merayakan Muharam lalu tiba-tiba harus ditiadakan begitu saja karena adanya peraturan dari pemerintah. Begitupun agama islam, Allah Azza Wa Jalla tidak serta merta memaksa umatnya untuk beribadah  jika kondisinya dalam keadaan darurat. Hendaknya kita bersikap tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla dan bersabar atas musibah yang menimpa. Qadarullah, itu semua telah menjadi ketentuan-ketentuanNya yang telah Allah tetapkan. Lagi pula ketika kita tidak bisa merayakan tradisi muharam seperti tahun-tahun kemarin, kita masih bisa beramal ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan amalan terbaik kita. Masih banyak cara lain penyambutan yang bisa kita raih untuk merayakan pergantian tahun baru islam. Seperti contohnya, puasa sunnah, melakukan shalat malam, bersedekah kepada fakir miskin, menonton kajian online, dan melakukan amalan sunnah-sunnah lainnya. Hal seperti mengadakan pawai obor itu hanyalah sebatas hiburan semata, bukan termasuk amalan ibadah yang wajib kita laksanakan ataupun hal yang disyariatkan dalam islam. Fokuskan saja untuk membenahi amalan-amalan apa saja yang bakal kita kerjakan dan yang harus kita perbaiki untuk bisa lebih baik dari hari sebelumnya.

 Sebagai umat yang cerdas, kreatif dan produktif harusnya kita mengikuti apa yang pemerintah anjurkan, jangan hanya karena kita tidak bisa menghilangkan tradisi sejak dulu lantas kita menjadi pengekor hawa nafsu yang melanggar akan himbauannya. Justru islam  lebih mementingkan maslahat umatnya dibanding hal buruk yang akan menimpanya. Seperti terdapat  pada ayat al-Qur’an untuk renungan kita:

ما أصاب من مصيبة الاّ بإذن الله ومن يؤمن بالله يهد قلبه ولله بكل شيء عليم

“Tidak ada suatu musibah pun menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. at-Taghabun:11)[3]

 Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

واعلم انّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك الاّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على ان يضروك بشيء لم يضروك الاّ بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحوف

   “ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين ألف سنة

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR.Muslim, no.2633)[4]

Dari sini harusnya kita tahu bahwa pada hakikatnya sebagai seorang muslim kita harus menjadi hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam segala kondisi. Jika kita tertimpa musibah hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, namun jika kita diberi kenikmatan kita ucapkan Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushalihat.  Terlebih pada bulan muharam ini semua amal ibadah akan dilipatgandakan. Apalagi jika kita bersabar dalam menjalankan semuanya, Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Nikmati saja proses yang telah Allah berikan, mau itu baik ataupun buruk pasti Allah mempunyai sesuatu yang indah untuk kedepannya. Seperti perkataan ibnu qoyyum “boleh jadi kita membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu, begitupun sebaliknya.” Contohnya saja, dengan adanya wabah saat ini menjadikan kota bebas dari polusi, manusia jadi rajin mementingkan kebersihannya, dan bumi menjadi lebih sehat.

Maka dalam hal ini, dari pada kita terus mengeluh karena tidak bisa merayakan Muharam seperti tradisi biasanya, lebih baik kita fokuskan untuk mencari manfaat yang lebih besar yang bisa kita raih dibulan haram ini. Tak perlu dibingungkan lagi, masih banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan di rumah. Justru dengan kita ibadah di rumah juga bisa membuat kita lebih khusyuk dan lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Sungguh, agama islam sangat mempermudah segalanya. Lakukanlah amalan-amalan ibadahmu, dengan sesuai tuntunan yang telah Allah dan Rasul ajarkan saja, jangan mempersulit dengan hal-hal yang berlebihan karena Allah tidak menyukai hal itu.

 

           

 

 

 

 



[1] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taubah :36)

[3] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taghabun:11

 

Sambut Tahun Baru Islam dengan Amalan-Amalan Terbaikmu

 

Muharam 1442 H

Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun tahun berganti tahun. Tanpa disadari waktu semakin cepat berlalu ,  juga tak terasa bulan Muharam sudah ada didepan mata.  Memasuki bulan Muharam tahun 1442 H, tepatnya pada hari kamis 20 Augustus 2020, dimana bulan Muharram sekarang tampaknya mulai berbeda. Ya, di bulan muharam ini kita disertai dengan adanya wabah covid 19. Namun, dengan adanya wabah tersebut, tidak membuat semangat umat islam memudar. Dalam agama islam, bulan Muharram (dikenal bulan suro oleh orang jawa) merupakan salah satu diantara empat bulan yang di namakan bulan haram. Seperti firman Allah Azza Wa Jalla :

انّ عدّة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والارض منها أربعةٌ حرم ذلك الدّين القيّم فلا تظلموا فيهنّ انفسكم

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS.At-Taubah: 36)[1]

Adapun yang dimaksud dari empat bulan tersebut ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ke empat bulan tersebut termasuk bulan Haram. Definisi dari haram disini ialah haramnya untuk berperang dan penekanan kepada seseorang untuk menjaga diri dari kemaksiatan, karena di bulan haram ini ketika seseorang melakukan kemaksiatan maka dosanya akan dilipatkan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Begitupun sebaliknya jika seseorang melakukan amal shalih maka pahalanya juga akan dilipatgandakan di bulan haram tersebut.

Ibnu Rajab mengatakan “Allah Azza Wa Jalla menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.”

            Bulan muharram juga dijuluki dengan Syahrullah (Bulan Allah), maka bulan Muharram ini sangatlah istemewa karena disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Seperti perkataan dari as Zamakhsari di nukil dari Faidhul Qodir, beliau rahimahullah mengatakan “Bulan Muharram ini disebut syahrullah, disandarkan pada lafadz jalalah Allah untuk menunjukan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut “baitullah” atau “Ailullah” ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus disini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram ini adalah nama islami. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Inilah yang disebutkan Ibnu Rojab, bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.[2]

            Selain agama islam, yahudi dan nasrani pun sangat mengagungkan bulan ini, bahkan syiah sendiri sering melakukan perang darah ketika memasuki tanggal 10 Muharram dengan notabene untuk memuliakannya bulan Muharam. Namun amalan-amalan mereka tidak akan Allah terima. Mereka tidak akan mendapatkan pahala melainkan hanya kesia-siannya saja, sebab yang Allah sempurnakan hanyalah agama islam, yaitu sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Adapun hal-hal yang menyimpang dari Qur’an dan Sunnah seperti islam kejawen itu maka amalannya tertolak.

Menyambut bulan Muharam dalam kondisi wabah

Indonesia memiliki keragaman budaya dan tradisi dalam setiap daerah. Begitupun dalam penyambutan muharam, masyarakat pada setiap daerah masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun tentu saja hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan syariat islam, karena adanya penyambutan tanpa dilandasi syariat islam, bisa merusak akidah seseorang. Berdasarkan survey yang terjadi di lapangan, sebagian masyarakat di daerah pulau jawa dipenuhi dengan sambutan-sambutan pawai obor bersama. Biasanya anak pesantren mengajak warga-warganya untuk ikut serta dalam merayakan bulan Muharam dengan diiringi shalawat bersama. Melihat contoh dari daerah lainnya, daerah sumatera menyambutnya dengan mengaji bersama serta saling mengantarkan makanan kepada fakir miskin dan masih banyak lagi penyambutan yang unik pada daerah lainnya. Namun, dalam kondisi wabah sekarang ini masyarakat harus menerima dengan lapang dada untuk melakukan social distancing. Hal ini merupakan cara aman agar kita bisa terhindar dari penularan virus yang begitu cepat. Memang sedih rasanya bagi orang yang biasa merayakan Muharam lalu tiba-tiba harus ditiadakan begitu saja karena adanya peraturan dari pemerintah. Begitupun agama islam, Allah Azza Wa Jalla tidak serta merta memaksa umatnya untuk beribadah  jika kondisinya dalam keadaan darurat. Hendaknya kita bersikap tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla dan bersabar atas musibah yang menimpa. Qadarullah, itu semua telah menjadi ketentuan-ketentuanNya yang telah Allah tetapkan. Lagi pula ketika kita tidak bisa merayakan tradisi muharam seperti tahun-tahun kemarin, kita masih bisa beramal ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla dengan amalan terbaik kita. Masih banyak cara lain penyambutan yang bisa kita raih untuk merayakan pergantian tahun baru islam. Seperti contohnya, puasa sunnah, melakukan shalat malam, bersedekah kepada fakir miskin, menonton kajian online, dan melakukan amalan sunnah-sunnah lainnya. Hal seperti mengadakan pawai obor itu hanyalah sebatas hiburan semata, bukan termasuk amalan ibadah yang wajib kita laksanakan ataupun hal yang disyariatkan dalam islam. Fokuskan saja untuk membenahi amalan-amalan apa saja yang bakal kita kerjakan dan yang harus kita perbaiki untuk bisa lebih baik dari hari sebelumnya.

 Sebagai umat yang cerdas, kreatif dan produktif harusnya kita mengikuti apa yang pemerintah anjurkan, jangan hanya karena kita tidak bisa menghilangkan tradisi sejak dulu lantas kita menjadi pengekor hawa nafsu yang melanggar akan himbauannya. Justru islam  lebih mementingkan maslahat umatnya dibanding hal buruk yang akan menimpanya. Seperti terdapat  pada ayat al-Qur’an untuk renungan kita:

ما أصاب من مصيبة الاّ بإذن الله ومن يؤمن بالله يهد قلبه ولله بكل شيء عليم

“Tidak ada suatu musibah pun menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. at-Taghabun:11)[3]

 Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

واعلم انّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك الاّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على ان يضروك بشيء لم يضروك الاّ بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحوف

   “ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السموات والارض بخمسين ألف سنة

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR.Muslim, no.2633)[4]

Dari sini harusnya kita tahu bahwa pada hakikatnya sebagai seorang muslim kita harus menjadi hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam segala kondisi. Jika kita tertimpa musibah hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, namun jika kita diberi kenikmatan kita ucapkan Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushalihat.  Terlebih pada bulan muharam ini semua amal ibadah akan dilipatgandakan. Apalagi jika kita bersabar dalam menjalankan semuanya, Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Nikmati saja proses yang telah Allah berikan, mau itu baik ataupun buruk pasti Allah mempunyai sesuatu yang indah untuk kedepannya. Seperti perkataan ibnu qoyyum “boleh jadi kita membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu, begitupun sebaliknya.” Contohnya saja, dengan adanya wabah saat ini menjadikan kota bebas dari polusi, manusia jadi rajin mementingkan kebersihannya, dan bumi menjadi lebih sehat.

Maka dalam hal ini, dari pada kita terus mengeluh karena tidak bisa merayakan Muharam seperti tradisi biasanya, lebih baik kita fokuskan untuk mencari manfaat yang lebih besar yang bisa kita raih dibulan haram ini. Tak perlu dibingungkan lagi, masih banyak ibadah-ibadah yang bisa kita lakukan di rumah. Justru dengan kita ibadah di rumah juga bisa membuat kita lebih khusyuk dan lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Sungguh, agama islam sangat mempermudah segalanya. Lakukanlah amalan-amalan ibadahmu, dengan sesuai tuntunan yang telah Allah dan Rasul ajarkan saja, jangan mempersulit dengan hal-hal yang berlebihan karena Allah tidak menyukai hal itu.

 

           

 

 

 

 



[1] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taubah :36)

[3] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taghabun:11

 

Komentar