Sambut Tahun Baru Islam dengan Amalan-Amalan Terbaikmu
Muharam 1442 H
Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun
tahun berganti tahun. Tanpa disadari waktu semakin cepat berlalu , juga tak terasa bulan Muharam sudah ada
didepan mata. Memasuki bulan Muharam
tahun 1442 H, tepatnya pada hari kamis 20 Augustus 2020, dimana bulan Muharram
sekarang tampaknya mulai berbeda. Ya, di bulan muharam ini kita disertai dengan
adanya wabah covid 19. Namun, dengan adanya wabah tersebut, tidak membuat
semangat umat islam memudar. Dalam agama islam, bulan Muharram (dikenal bulan
suro oleh orang jawa) merupakan salah satu diantara empat bulan yang di namakan
bulan haram. Seperti firman Allah Azza Wa Jalla :
انّ عدّة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب
الله يوم خلق السماوات والارض منها أربعةٌ حرم ذلك الدّين القيّم فلا تظلموا فيهنّ
انفسكم
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah
adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit
dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang
lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu
(QS.At-Taubah: 36)[1]
Adapun yang dimaksud dari empat bulan tersebut
ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ke empat bulan tersebut
termasuk bulan Haram. Definisi dari haram disini ialah haramnya untuk berperang
dan penekanan kepada seseorang untuk menjaga diri dari kemaksiatan, karena di
bulan haram ini ketika seseorang melakukan kemaksiatan maka dosanya akan
dilipatkan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Begitupun sebaliknya jika
seseorang melakukan amal shalih maka pahalanya juga akan dilipatgandakan di
bulan haram tersebut.
Ibnu Rajab mengatakan “Allah Azza Wa Jalla
menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang,
keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan
bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ
muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu
tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam
syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan
dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli
Kitab.”
Bulan muharram juga dijuluki dengan Syahrullah
(Bulan Allah), maka bulan Muharram ini sangatlah istemewa karena
disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Seperti perkataan dari as
Zamakhsari di nukil dari Faidhul Qodir, beliau rahimahullah mengatakan “Bulan
Muharram ini disebut syahrullah, disandarkan pada lafadz jalalah Allah untuk
menunjukan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut
“baitullah” atau “Ailullah” ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus
disini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukan adanya
keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram ini adalah nama islami. Bulan ini
adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Inilah
yang disebutkan Ibnu Rojab, bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian
karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.[2]
Selain
agama islam, yahudi dan nasrani pun sangat mengagungkan bulan ini, bahkan syiah
sendiri sering melakukan perang darah ketika memasuki tanggal 10 Muharram
dengan notabene untuk memuliakannya bulan Muharam. Namun amalan-amalan mereka
tidak akan Allah terima. Mereka tidak akan mendapatkan pahala melainkan hanya
kesia-siannya saja, sebab yang Allah sempurnakan hanyalah agama islam, yaitu
sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Adapun hal-hal yang menyimpang dari Qur’an
dan Sunnah seperti islam kejawen itu maka amalannya tertolak.
Menyambut bulan Muharam dalam kondisi wabah
Indonesia memiliki keragaman budaya dan
tradisi dalam setiap daerah. Begitupun dalam penyambutan muharam, masyarakat
pada setiap daerah masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun tentu
saja hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan syariat islam, karena
adanya penyambutan tanpa dilandasi syariat islam, bisa merusak akidah
seseorang. Berdasarkan survey yang terjadi di lapangan, sebagian masyarakat di
daerah pulau jawa dipenuhi dengan sambutan-sambutan pawai obor bersama.
Biasanya anak pesantren mengajak warga-warganya untuk ikut serta dalam
merayakan bulan Muharam dengan diiringi shalawat bersama. Melihat contoh dari
daerah lainnya, daerah sumatera menyambutnya dengan mengaji bersama serta
saling mengantarkan makanan kepada fakir miskin dan masih banyak lagi
penyambutan yang unik pada daerah lainnya. Namun, dalam kondisi wabah sekarang
ini masyarakat harus menerima dengan lapang dada untuk melakukan social
distancing. Hal ini merupakan cara aman agar kita bisa terhindar dari
penularan virus yang begitu cepat. Memang sedih rasanya bagi orang yang biasa
merayakan Muharam lalu tiba-tiba harus ditiadakan begitu saja karena adanya
peraturan dari pemerintah. Begitupun agama islam, Allah Azza Wa Jalla
tidak serta merta memaksa umatnya untuk beribadah jika kondisinya dalam keadaan darurat.
Hendaknya kita bersikap tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla dan bersabar
atas musibah yang menimpa. Qadarullah, itu semua telah menjadi ketentuan-ketentuanNya
yang telah Allah tetapkan. Lagi pula ketika kita tidak bisa merayakan tradisi
muharam seperti tahun-tahun kemarin, kita masih bisa beramal ibadah kepada
Allah Azza Wa Jalla dengan amalan terbaik kita. Masih banyak cara lain
penyambutan yang bisa kita raih untuk merayakan pergantian tahun baru islam.
Seperti contohnya, puasa sunnah, melakukan shalat malam, bersedekah kepada
fakir miskin, menonton kajian online, dan melakukan amalan sunnah-sunnah
lainnya. Hal seperti mengadakan pawai obor itu hanyalah sebatas hiburan semata,
bukan termasuk amalan ibadah yang wajib kita laksanakan ataupun hal yang
disyariatkan dalam islam. Fokuskan saja untuk membenahi amalan-amalan apa saja
yang bakal kita kerjakan dan yang harus kita perbaiki untuk bisa lebih baik
dari hari sebelumnya.
Sebagai
umat yang cerdas, kreatif dan produktif harusnya kita mengikuti apa yang pemerintah
anjurkan, jangan hanya karena kita tidak bisa menghilangkan tradisi sejak dulu lantas
kita menjadi pengekor hawa nafsu yang melanggar akan himbauannya. Justru
islam lebih mementingkan maslahat
umatnya dibanding hal buruk yang akan menimpanya. Seperti terdapat pada ayat al-Qur’an untuk renungan kita:
ما أصاب من مصيبة الاّ بإذن الله ومن يؤمن بالله
يهد قلبه ولله بكل شيء عليم
“Tidak ada suatu musibah pun
menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. at-Taghabun:11)[3]
Dari
Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
واعلم انّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء
لم ينفعوك الاّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على ان يضروك بشيء لم يضروك
الاّ بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحوف
“ketahuilah
apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu
yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk
menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat
membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan
takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata bahwa hadits ini hasan
shahih)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السموات
والارض بخمسين ألف سنة
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk
50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR.Muslim, no.2633)[4]
Dari sini harusnya kita tahu bahwa pada
hakikatnya sebagai seorang muslim kita harus menjadi hamba yang senantiasa
bersabar dan bersyukur dalam segala kondisi. Jika kita tertimpa musibah
hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, namun jika kita
diberi kenikmatan kita ucapkan Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushalihat. Terlebih pada bulan muharam ini semua amal
ibadah akan dilipatgandakan. Apalagi jika kita bersabar dalam menjalankan
semuanya, Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Nikmati saja proses yang telah Allah berikan, mau itu baik ataupun buruk pasti
Allah mempunyai sesuatu yang indah untuk kedepannya. Seperti perkataan ibnu
qoyyum “boleh jadi kita membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu,
begitupun sebaliknya.” Contohnya saja, dengan adanya wabah saat ini menjadikan
kota bebas dari polusi, manusia jadi rajin mementingkan kebersihannya, dan bumi
menjadi lebih sehat.
Maka dalam hal ini, dari pada kita terus
mengeluh karena tidak bisa merayakan Muharam seperti tradisi biasanya, lebih
baik kita fokuskan untuk mencari manfaat yang lebih besar yang bisa kita raih
dibulan haram ini. Tak perlu dibingungkan lagi, masih banyak ibadah-ibadah yang
bisa kita lakukan di rumah. Justru dengan kita ibadah di rumah juga bisa
membuat kita lebih khusyuk dan lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga.
Sungguh, agama islam sangat mempermudah segalanya. Lakukanlah amalan-amalan
ibadahmu, dengan sesuai tuntunan yang telah Allah dan Rasul ajarkan saja,
jangan mempersulit dengan hal-hal yang berlebihan karena Allah tidak menyukai
hal itu.
[1] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taubah :36)
[2] https://rumaysho.com/719-kekeliruan
-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriah.html diakses pada tanggal 17 desember 2009
[3] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taghabun:11
[4] https://rumaysho.com/23237-khutbah-jumat-menyikapi-virus-corona.html diakses pada 31 januari 2020
Muharam 1442 H
Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun
tahun berganti tahun. Tanpa disadari waktu semakin cepat berlalu , juga tak terasa bulan Muharam sudah ada
didepan mata. Memasuki bulan Muharam
tahun 1442 H, tepatnya pada hari kamis 20 Augustus 2020, dimana bulan Muharram
sekarang tampaknya mulai berbeda. Ya, di bulan muharam ini kita disertai dengan
adanya wabah covid 19. Namun, dengan adanya wabah tersebut, tidak membuat
semangat umat islam memudar. Dalam agama islam, bulan Muharram (dikenal bulan
suro oleh orang jawa) merupakan salah satu diantara empat bulan yang di namakan
bulan haram. Seperti firman Allah Azza Wa Jalla :
انّ عدّة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب
الله يوم خلق السماوات والارض منها أربعةٌ حرم ذلك الدّين القيّم فلا تظلموا فيهنّ
انفسكم
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah
adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit
dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang
lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu
(QS.At-Taubah: 36)[1]
Adapun yang dimaksud dari empat bulan tersebut
ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ke empat bulan tersebut
termasuk bulan Haram. Definisi dari haram disini ialah haramnya untuk berperang
dan penekanan kepada seseorang untuk menjaga diri dari kemaksiatan, karena di
bulan haram ini ketika seseorang melakukan kemaksiatan maka dosanya akan
dilipatkan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Begitupun sebaliknya jika
seseorang melakukan amal shalih maka pahalanya juga akan dilipatgandakan di
bulan haram tersebut.
Ibnu Rajab mengatakan “Allah Azza Wa Jalla
menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang,
keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan
bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ
muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu
tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam
syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan
dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli
Kitab.”
Bulan muharram juga dijuluki dengan Syahrullah
(Bulan Allah), maka bulan Muharram ini sangatlah istemewa karena
disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Seperti perkataan dari as
Zamakhsari di nukil dari Faidhul Qodir, beliau rahimahullah mengatakan “Bulan
Muharram ini disebut syahrullah, disandarkan pada lafadz jalalah Allah untuk
menunjukan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut
“baitullah” atau “Ailullah” ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus
disini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukan adanya
keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram ini adalah nama islami. Bulan ini
adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Inilah
yang disebutkan Ibnu Rojab, bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian
karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.[2]
Selain
agama islam, yahudi dan nasrani pun sangat mengagungkan bulan ini, bahkan syiah
sendiri sering melakukan perang darah ketika memasuki tanggal 10 Muharram
dengan notabene untuk memuliakannya bulan Muharam. Namun amalan-amalan mereka
tidak akan Allah terima. Mereka tidak akan mendapatkan pahala melainkan hanya
kesia-siannya saja, sebab yang Allah sempurnakan hanyalah agama islam, yaitu
sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Adapun hal-hal yang menyimpang dari Qur’an
dan Sunnah seperti islam kejawen itu maka amalannya tertolak.
Menyambut bulan Muharam dalam kondisi wabah
Indonesia memiliki keragaman budaya dan
tradisi dalam setiap daerah. Begitupun dalam penyambutan muharam, masyarakat
pada setiap daerah masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun tentu
saja hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan syariat islam, karena
adanya penyambutan tanpa dilandasi syariat islam, bisa merusak akidah
seseorang. Berdasarkan survey yang terjadi di lapangan, sebagian masyarakat di
daerah pulau jawa dipenuhi dengan sambutan-sambutan pawai obor bersama.
Biasanya anak pesantren mengajak warga-warganya untuk ikut serta dalam
merayakan bulan Muharam dengan diiringi shalawat bersama. Melihat contoh dari
daerah lainnya, daerah sumatera menyambutnya dengan mengaji bersama serta
saling mengantarkan makanan kepada fakir miskin dan masih banyak lagi
penyambutan yang unik pada daerah lainnya. Namun, dalam kondisi wabah sekarang
ini masyarakat harus menerima dengan lapang dada untuk melakukan social
distancing. Hal ini merupakan cara aman agar kita bisa terhindar dari
penularan virus yang begitu cepat. Memang sedih rasanya bagi orang yang biasa
merayakan Muharam lalu tiba-tiba harus ditiadakan begitu saja karena adanya
peraturan dari pemerintah. Begitupun agama islam, Allah Azza Wa Jalla
tidak serta merta memaksa umatnya untuk beribadah jika kondisinya dalam keadaan darurat.
Hendaknya kita bersikap tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla dan bersabar
atas musibah yang menimpa. Qadarullah, itu semua telah menjadi ketentuan-ketentuanNya
yang telah Allah tetapkan. Lagi pula ketika kita tidak bisa merayakan tradisi
muharam seperti tahun-tahun kemarin, kita masih bisa beramal ibadah kepada
Allah Azza Wa Jalla dengan amalan terbaik kita. Masih banyak cara lain
penyambutan yang bisa kita raih untuk merayakan pergantian tahun baru islam.
Seperti contohnya, puasa sunnah, melakukan shalat malam, bersedekah kepada
fakir miskin, menonton kajian online, dan melakukan amalan sunnah-sunnah
lainnya. Hal seperti mengadakan pawai obor itu hanyalah sebatas hiburan semata,
bukan termasuk amalan ibadah yang wajib kita laksanakan ataupun hal yang
disyariatkan dalam islam. Fokuskan saja untuk membenahi amalan-amalan apa saja
yang bakal kita kerjakan dan yang harus kita perbaiki untuk bisa lebih baik
dari hari sebelumnya.
Sebagai
umat yang cerdas, kreatif dan produktif harusnya kita mengikuti apa yang pemerintah
anjurkan, jangan hanya karena kita tidak bisa menghilangkan tradisi sejak dulu lantas
kita menjadi pengekor hawa nafsu yang melanggar akan himbauannya. Justru
islam lebih mementingkan maslahat
umatnya dibanding hal buruk yang akan menimpanya. Seperti terdapat pada ayat al-Qur’an untuk renungan kita:
ما أصاب من مصيبة الاّ بإذن الله ومن يؤمن بالله
يهد قلبه ولله بكل شيء عليم
“Tidak ada suatu musibah pun
menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. at-Taghabun:11)[3]
Dari
Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
واعلم انّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء
لم ينفعوك الاّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على ان يضروك بشيء لم يضروك
الاّ بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحوف
“ketahuilah
apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu
yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk
menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat
membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan
takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata bahwa hadits ini hasan
shahih)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السموات
والارض بخمسين ألف سنة
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk
50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR.Muslim, no.2633)[4]
Dari sini harusnya kita tahu bahwa pada
hakikatnya sebagai seorang muslim kita harus menjadi hamba yang senantiasa
bersabar dan bersyukur dalam segala kondisi. Jika kita tertimpa musibah
hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, namun jika kita
diberi kenikmatan kita ucapkan Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushalihat. Terlebih pada bulan muharam ini semua amal
ibadah akan dilipatgandakan. Apalagi jika kita bersabar dalam menjalankan
semuanya, Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Nikmati saja proses yang telah Allah berikan, mau itu baik ataupun buruk pasti
Allah mempunyai sesuatu yang indah untuk kedepannya. Seperti perkataan ibnu
qoyyum “boleh jadi kita membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu,
begitupun sebaliknya.” Contohnya saja, dengan adanya wabah saat ini menjadikan
kota bebas dari polusi, manusia jadi rajin mementingkan kebersihannya, dan bumi
menjadi lebih sehat.
Maka dalam hal ini, dari pada kita terus
mengeluh karena tidak bisa merayakan Muharam seperti tradisi biasanya, lebih
baik kita fokuskan untuk mencari manfaat yang lebih besar yang bisa kita raih
dibulan haram ini. Tak perlu dibingungkan lagi, masih banyak ibadah-ibadah yang
bisa kita lakukan di rumah. Justru dengan kita ibadah di rumah juga bisa
membuat kita lebih khusyuk dan lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga.
Sungguh, agama islam sangat mempermudah segalanya. Lakukanlah amalan-amalan
ibadahmu, dengan sesuai tuntunan yang telah Allah dan Rasul ajarkan saja,
jangan mempersulit dengan hal-hal yang berlebihan karena Allah tidak menyukai
hal itu.
[1] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taubah :36)
[2] https://rumaysho.com/719-kekeliruan
-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriah.html diakses pada tanggal 17 desember 2009
[3] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taghabun:11
[4] https://rumaysho.com/23237-khutbah-jumat-menyikapi-virus-corona.html diakses pada 31 januari 2020
Sambut Tahun Baru Islam dengan Amalan-Amalan Terbaikmu
Muharam 1442 H
Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun
tahun berganti tahun. Tanpa disadari waktu semakin cepat berlalu , juga tak terasa bulan Muharam sudah ada
didepan mata. Memasuki bulan Muharam
tahun 1442 H, tepatnya pada hari kamis 20 Augustus 2020, dimana bulan Muharram
sekarang tampaknya mulai berbeda. Ya, di bulan muharam ini kita disertai dengan
adanya wabah covid 19. Namun, dengan adanya wabah tersebut, tidak membuat
semangat umat islam memudar. Dalam agama islam, bulan Muharram (dikenal bulan
suro oleh orang jawa) merupakan salah satu diantara empat bulan yang di namakan
bulan haram. Seperti firman Allah Azza Wa Jalla :
انّ عدّة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب
الله يوم خلق السماوات والارض منها أربعةٌ حرم ذلك الدّين القيّم فلا تظلموا فيهنّ
انفسكم
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah
adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit
dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang
lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu
(QS.At-Taubah: 36)[1]
Adapun yang dimaksud dari empat bulan tersebut
ialah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ke empat bulan tersebut
termasuk bulan Haram. Definisi dari haram disini ialah haramnya untuk berperang
dan penekanan kepada seseorang untuk menjaga diri dari kemaksiatan, karena di
bulan haram ini ketika seseorang melakukan kemaksiatan maka dosanya akan
dilipatkan lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Begitupun sebaliknya jika
seseorang melakukan amal shalih maka pahalanya juga akan dilipatgandakan di
bulan haram tersebut.
Ibnu Rajab mengatakan “Allah Azza Wa Jalla
menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang,
keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan
bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ
muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu
tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam
syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan
dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli
Kitab.”
Bulan muharram juga dijuluki dengan Syahrullah
(Bulan Allah), maka bulan Muharram ini sangatlah istemewa karena
disandarkan pada lafadz jalalah Allah. Seperti perkataan dari as
Zamakhsari di nukil dari Faidhul Qodir, beliau rahimahullah mengatakan “Bulan
Muharram ini disebut syahrullah, disandarkan pada lafadz jalalah Allah untuk
menunjukan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut
“baitullah” atau “Ailullah” ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus
disini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukan adanya
keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram ini adalah nama islami. Bulan ini
adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Inilah
yang disebutkan Ibnu Rojab, bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian
karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.[2]
Selain
agama islam, yahudi dan nasrani pun sangat mengagungkan bulan ini, bahkan syiah
sendiri sering melakukan perang darah ketika memasuki tanggal 10 Muharram
dengan notabene untuk memuliakannya bulan Muharam. Namun amalan-amalan mereka
tidak akan Allah terima. Mereka tidak akan mendapatkan pahala melainkan hanya
kesia-siannya saja, sebab yang Allah sempurnakan hanyalah agama islam, yaitu
sesuai tuntunan Qur’an dan sunnah. Adapun hal-hal yang menyimpang dari Qur’an
dan Sunnah seperti islam kejawen itu maka amalannya tertolak.
Menyambut bulan Muharam dalam kondisi wabah
Indonesia memiliki keragaman budaya dan
tradisi dalam setiap daerah. Begitupun dalam penyambutan muharam, masyarakat
pada setiap daerah masing-masing mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun tentu
saja hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan syariat islam, karena
adanya penyambutan tanpa dilandasi syariat islam, bisa merusak akidah
seseorang. Berdasarkan survey yang terjadi di lapangan, sebagian masyarakat di
daerah pulau jawa dipenuhi dengan sambutan-sambutan pawai obor bersama.
Biasanya anak pesantren mengajak warga-warganya untuk ikut serta dalam
merayakan bulan Muharam dengan diiringi shalawat bersama. Melihat contoh dari
daerah lainnya, daerah sumatera menyambutnya dengan mengaji bersama serta
saling mengantarkan makanan kepada fakir miskin dan masih banyak lagi
penyambutan yang unik pada daerah lainnya. Namun, dalam kondisi wabah sekarang
ini masyarakat harus menerima dengan lapang dada untuk melakukan social
distancing. Hal ini merupakan cara aman agar kita bisa terhindar dari
penularan virus yang begitu cepat. Memang sedih rasanya bagi orang yang biasa
merayakan Muharam lalu tiba-tiba harus ditiadakan begitu saja karena adanya
peraturan dari pemerintah. Begitupun agama islam, Allah Azza Wa Jalla
tidak serta merta memaksa umatnya untuk beribadah jika kondisinya dalam keadaan darurat.
Hendaknya kita bersikap tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla dan bersabar
atas musibah yang menimpa. Qadarullah, itu semua telah menjadi ketentuan-ketentuanNya
yang telah Allah tetapkan. Lagi pula ketika kita tidak bisa merayakan tradisi
muharam seperti tahun-tahun kemarin, kita masih bisa beramal ibadah kepada
Allah Azza Wa Jalla dengan amalan terbaik kita. Masih banyak cara lain
penyambutan yang bisa kita raih untuk merayakan pergantian tahun baru islam.
Seperti contohnya, puasa sunnah, melakukan shalat malam, bersedekah kepada
fakir miskin, menonton kajian online, dan melakukan amalan sunnah-sunnah
lainnya. Hal seperti mengadakan pawai obor itu hanyalah sebatas hiburan semata,
bukan termasuk amalan ibadah yang wajib kita laksanakan ataupun hal yang
disyariatkan dalam islam. Fokuskan saja untuk membenahi amalan-amalan apa saja
yang bakal kita kerjakan dan yang harus kita perbaiki untuk bisa lebih baik
dari hari sebelumnya.
Sebagai
umat yang cerdas, kreatif dan produktif harusnya kita mengikuti apa yang pemerintah
anjurkan, jangan hanya karena kita tidak bisa menghilangkan tradisi sejak dulu lantas
kita menjadi pengekor hawa nafsu yang melanggar akan himbauannya. Justru
islam lebih mementingkan maslahat
umatnya dibanding hal buruk yang akan menimpanya. Seperti terdapat pada ayat al-Qur’an untuk renungan kita:
ما أصاب من مصيبة الاّ بإذن الله ومن يؤمن بالله
يهد قلبه ولله بكل شيء عليم
“Tidak ada suatu musibah pun
menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui atas segala sesuatu” (QS. at-Taghabun:11)[3]
Dari
Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
واعلم انّ الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء
لم ينفعوك الاّ بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على ان يضروك بشيء لم يضروك
الاّ بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحوف
“ketahuilah
apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu
yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk
menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat
membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu.
Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan
takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata bahwa hadits ini hasan
shahih)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كتب الله مقادير الخلائق قبل ان يخلق السموات
والارض بخمسين ألف سنة
“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk
50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR.Muslim, no.2633)[4]
Dari sini harusnya kita tahu bahwa pada
hakikatnya sebagai seorang muslim kita harus menjadi hamba yang senantiasa
bersabar dan bersyukur dalam segala kondisi. Jika kita tertimpa musibah
hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hal, namun jika kita
diberi kenikmatan kita ucapkan Alhamdulillahilladzi bini’mati tatimushalihat. Terlebih pada bulan muharam ini semua amal
ibadah akan dilipatgandakan. Apalagi jika kita bersabar dalam menjalankan
semuanya, Allah pasti akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Nikmati saja proses yang telah Allah berikan, mau itu baik ataupun buruk pasti
Allah mempunyai sesuatu yang indah untuk kedepannya. Seperti perkataan ibnu
qoyyum “boleh jadi kita membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu,
begitupun sebaliknya.” Contohnya saja, dengan adanya wabah saat ini menjadikan
kota bebas dari polusi, manusia jadi rajin mementingkan kebersihannya, dan bumi
menjadi lebih sehat.
Maka dalam hal ini, dari pada kita terus
mengeluh karena tidak bisa merayakan Muharam seperti tradisi biasanya, lebih
baik kita fokuskan untuk mencari manfaat yang lebih besar yang bisa kita raih
dibulan haram ini. Tak perlu dibingungkan lagi, masih banyak ibadah-ibadah yang
bisa kita lakukan di rumah. Justru dengan kita ibadah di rumah juga bisa
membuat kita lebih khusyuk dan lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga.
Sungguh, agama islam sangat mempermudah segalanya. Lakukanlah amalan-amalan
ibadahmu, dengan sesuai tuntunan yang telah Allah dan Rasul ajarkan saja,
jangan mempersulit dengan hal-hal yang berlebihan karena Allah tidak menyukai
hal itu.
[1] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taubah :36)
[2] https://rumaysho.com/719-kekeliruan
-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriah.html diakses pada tanggal 17 desember 2009
[3] Al-Qur’an dan terjemah Qs.at-Taghabun:11
[4] https://rumaysho.com/23237-khutbah-jumat-menyikapi-virus-corona.html diakses pada 31 januari 2020
Komentar
Posting Komentar